Jumat, 31 Agustus 2012
Rabu, 11 Juli 2012
Selogam mata uang (bagian 1)
| Setelah kejadian itu bayangan mu perlahan menghilang Menyisakan bayang hitam, tak terasa tetesan air di daun jatuh ketanah meninggalkan kubangan kepedihan. Terbuai oleh kebersamaan yang telah lama menghampiri Namun ku tepis bahwa itu tiada nyata dan hanya fatamorgana serta semu belaka. Ternyata tlah kau tuangkan cinta kedalam bejana hati hingga mendidih hati ini Namun belum sempat ku reguk nikmatnya air kehangatan cinta kasih itu Dia yaitu cinta itu menghempaskan kalbu dan rasa di dada Dengan tumpahnya air cinta di bejana tersebut Aku tak dapat menjaga dan memelihara rasa ini Hingga belum sempat kau benar-benar tepat di hati, kau telah hilang pergi menjauh |
Di kala senja mulai menampakkan dirinya, aku melihat ke arah luar jendela. Langit mulai ditinggalkan oleh mentari yang mulai tenggelam namun di luar sana masih saja terang benderang yang diisi oleh cahaya dari lampu jalan, lampu taman di pekarangan rumah dan lampu di setiap rumah menggantikan cahaya sinar mentari yang perlahan mulai redup dan menghilang.
Namun ditengah ku memperhatikan dan menikmati bergantinya cahaya mentari menuju gelapnya malam serta bias cahaya bulan yang nun jauh disana, mata ini tertuju pada seberang jalan dimana rumah yang dulunya sudah lama kosong sekitar 3 bulan kini mulai ada penghuni.
Terlihat beberapa sosok orang yang sedang sibuk dengan barangnya untuk dimasukkan di rumah tersebut. Dalam hati aku berujar, “Apa gak tahu diri orang yang pindah itu ya…? sudah sekitar 3 bulan kosong kok langsung ditempati. Bukan dibersihkan dulu baru dipindahkan barang-barangnya ehmm…….tapi biarlah apa perlunya aku ikut urusan orang lain tersebut.”
Aku pun menutup jendela lalu menutupnya dengan kain pelindung jendela, lalu aku pun segera bergegas duduk di kursi menatap layar monitor yang berada diatas meja kayu ku. Ku kerjakan tugas kampus yang baru saja kuterima tadi pagi, namun niat mengerjakan tugas hanya sekedar niat saja tanpa nyata. Aku hanya bermain-main dengan khayalan dan pikiran saja, sedangkan program aplikasi menulis tetap saja putih kosong tanpa tulisan apa pun.
Senin, 02 Juli 2012
Bertepi
Kenapa kini kau tawarkan rasa itu
Yang kini telah mewangi dan bersemi bunga dihati, berselimut perih membekas didada.
Simpan saja cinta mu karena cinta mu tak perlu memiliki, seperti kau katakan dahulu.
Kini simpan saja cinta mu pada ku di dalam hati saja, jangan berharap aku kan membalas sedetik pun.
Maaf kan senyuman yang pergi padamu dan dingin yang membekas kini.
Aku telah bertepi ke sebuah dermaga dengan segala kondisinya dan aku menyenanginya serta bahagia.
Bunga yang kutanamkan di taman hati mu kini telah mati dan telah bersemi di hati yang lain, carilah bunga lain yang bisa indahkan taman bunga di hatimu.
Selasa, 22 Mei 2012
Mencoba membuat antena sendiri
Telah lama aku sangat jarang menulis blog ini sekedar berbagi apa yang ada di dalam pikiran untuk dituangkan lewat kata-kata. Jangankan menulis blog untuk online sekedar chat atau browsing saja sudah lama tidak kulakukan.
Aku lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya offline misalnya mencoba membuat dan modif antena wifi sendiri yang ku dapatkan referensinya dari mesin pencari google (kata orang-orang sih biasanya mbah google) misal yagi, kaleng, omni, grid atau lainnya
Begitu banyak kisah-kisah dan cerita mengenai antena tersebut dari teori hingga prakteknya yang ku dapat dari link-link yang ada. Teorinya biasanya didapat dari tulisan-tulisan sedangkan prakteknya aku hanya bisa melihat dari video sharing yang terkenal yaitu Youtube.
Akhirnya ku coba antena kaleng untuk usb, awalnya bingung juga membaca tulisan-tulisan yang ada lalu ku putuskan melihat videonya akhirnya berhasil.Lalu setelah itu aku mencoba membuat antena Wajanbolic dengan kreasi ku sendiri hingga seperti ini aku juga gak tau pasti ini antena apa…? (hehehehe)
Dimana awalnya ini adalah antena yagi yang kulihat di blog teman yang telah membuatnya namun kuberi wajan yang telah kupotong pegangan(kupingnya) namun di tengah antena Yagi itu kuberikan lagi antena yang kudapat dari antena TV yang rusak. hingga jadinya seperti ini.
Lalu kucoba menyambungkannya antena ke AP lalu meletakkan hanya dengan tinggi 2 meter dari permukaan tanah di depan rumah mengarahkannya keluar rumah, dan kutes menggunakan laptop sejauh mana sinyal masih bisa kudapat. Dalam pembuatan antena tersebut aku tidak menggunakan perhitungan pasti cuma kiraan saja, ternyata sinyal didapat mentok di 25 meter saja dalam keadaaan cuaca normal kalo sedang tidak baik hanya 20 meter saja. Lalu AP dan antena kusimpan dibagian atas rumah namun diletakkan pada tiang triangle, namun muncul kesulitan dalam hal daya atau power supply yang agak ribet.
Setelah tanya sana-sini dan lihat sana sini di dunia maya akhirnya jalan keluarnya yaitu menggunakan POE (Power On Ethernet), apaan lagi tuh pikir ku.
Lalu kuputuskan mencobanya lain kali, saja entah kapan….?Mungkin bila editan video dan foto telah selesai ku kerjakan saja tapi ya itu entah lah kalo sempat saja. Mungkin lebih tepatnya aku sedang malas saja (hehehehehehehehehe)
Senin, 30 April 2012
Burung besi
Kembali aku menginjakkan kaki di bandara untuk kesekian kalinya, mencari sebuah kata jawaban yang telah lama kucari.
Begitu lelah dan hendak ku hentikan saja langkah ini saat kunaiki satu persatu anak tangga yang tak seberapa banyak, ribuan kilometer kuarungi dengan burung besi mengitari putihnya awan dan birunya langit yang kadang hitam mendung melanda.
Kepakan sayapnya mengantarkan aku terbang lebih jauh mengitari angan-angan yang tinggi, setinggi bulan yang jauh disana kala gelap melanda bumi.
Kala cuaca mulai menampakkan kegelapannya aku merasa dapatkan burung besi ini terbang mengantarkan aku sampai ke tujuan.
Tujuan yang masih dalam angan dan belum tentu sesuai dengan apa yang ada di angan ini, itu semua hanya ingin dan mau ku saja yang mungkin saja sesungguh yang terjadi bisa saja jauh darinya.
Biarlah angan di hati ini terbang bersama terbangnya burung besi itu menuju langit biru yang begitu luasnya